Startup Pembuat Layanan Chat Bot Kata.ai Raih Pendanaan Seri A Sebesar Rp46 Miliar

Pada tanggal 29 Agustus 2017 ini, startup yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI) Kata.ai mengumumkan bahwa mereka telah mendapat pendanaan Seri A sebesar US$3,5 juta (sekitar Rp46,6 miliar). Investasi ini dipimpin oleh Trans-Pacific Technology Fund (TPTF), sebuah lembaga investasi yang berasal dari Taiwan. Pendanaan ini juga diikuti oleh VC milik Telkom Group MDI Ventures, Access Ventures, Convergence Ventures, VPG Asia, Red Sails Investment, serta angel investor Eddy Chan. Setelah investasi tersebut, pimpinan dari TPTF yang bernama Barry Lee akan bergabung dengan jajaran direktur di Kata.ai.

Dana segar ini rencananya akan digunakan oleh Kata.ai untuk melakukan ekspansi ke negara-negara Asia Tenggara yang lain, serta Taiwan.

Kata.ai sendiri merupakan startup teknologi yang bisa menghadirkan layanan chat bot untuk berbagai perusahaan dalam Bahasa Indonesia. Seiring dengan ekspansi yang mereka lakukan, Kata.ai juga siap menghadirkan layanan chat bot dalam bahasa lain, seperti Mandarin.

Salah satu chat bot yang telah dibuat oleh Kata.ai adalah Jemma, hasil kerja sama mereka dengan Unilever. Lewat chat bot yang tersedia di LINE tersebut, kamu bisa menanyakan berbagai hal tentang fesyen serta hubungan dengan kekasih. Jemma akan menanyakan data seperti nama dan tanggal lahir, untuk kemudian memberikan informasi seperti ramalan bintang dan berbagai tip secara rutin.

Kata.ai pun telah bekerja sama dengan Accenture untuk membuat layanan chat bot bagi perusahaan telekomunikasi Telkomsel, yang bernama Veronika. Layanan chat bot yang bisa diakses lewat LINE, Facebook Messenger, dan Telegram tersebut memungkinkan kamu untuk memeriksa kuota data dan pulsa, hingga membuat janji untuk datang ke Grapari.

Masyarakat Indonesia sangat menyukai aplikasi chat

Veronika | Screenshot

Veronika, chat bot yang dibuat Kata.ai an Accenture untuk Telkomsel

Teknologi chat bot sendiri merupakan sesuatu yang relatif baru di dunia. Microsoft pernah melakukan eksperimen pada tahun 2016 yang lalu dengan sebuah chat bot bernama Tay. Namun chat bot tersebut justru mempelajari kata-kata rasis dari pengguna yang berkomunikasi dengannya.

Secara rata-rata, ada 4,2 aplikasi chat yang terpasang di setiap smartphone di Indonesia. 97 persen pengguna pun menggunakan aplikasi-aplikasi chat tersebut beberapa kali dalam sehari

Irzan Raditya, Co-Founder & CEO Kata.ai

Teknologi chat bot pun dianggap membutuhkan waktu mengetik yang lebih lama ketiga digunakan. Hal ini kemungkinan akan berubah ketika teknologi tersebut telah bisa menerima perintah berupa suara.

Namun menurut Co-Founder dan CEO Kata.ai, Irzan Raditya, penggunaan perintah suara masih butuh waktu beberapa tahun untuk bisa populer di Indonesia. Hal ini dikarenakan harga perangkat seperti Amazon Echo dan Google Home yang masih cukup mahal. Perangkat tersebut pun belum terlalu memahami Bahasa Indonesia.

Masyarakat Indonesia justru masih menggemari komunikasi lewat aplikasi chat. “Secara rata-rata, ada 4,2 aplikasi chat yang terpasang di setiap smartphone di Indonesia. 97 persen pengguna pun menggunakan aplikasi-aplikasi chat tersebut beberapa kali dalam sehari,” tutur Irzan kepada Tech in Asia Indonesia.

Whatsapp akan menjadi game changer

YesBoss Kata AI 2 | Screenshot

Hingga saat ini, layanan chat bot Jemma yang dibuat Kata.ai diklaim telah mempunyai 1,4 juta pengguna di LINE. Salah satu sesi obrolan yang paling lama di layanan tersebut bahkan bisa berlangsung hingga dua jam. Secara total, Kata.ai telah berhasil menjangkau sekitar enam juta pengguna lewat semua layanan chat bot yang telah mereka buat.

Tak hanya menghadirkan layanan chat bot untuk perusahaan besar, Kata.ai pun akan membuat platform berbasis web bernama Bot Studio Platform yang memungkinkan para developer untuk membuat chat bot dengan teknologi NLP yang mereka kembangkan.

read also

Beberapa aplikasi chat seperti LINE, Facebook Messenger, dan Telegram, memang telah membuka ruang bagi para developer untuk membuat chat bot di platform mereka. Sayangnya WhatsApp, aplikasi chat paling populer di Indonesia dan 39 negara lain di dunia, belum membuka fitur tersebut.

“(Bila mereka membuka fitur tersebut), maka hal ini akan menjadi game changer untuk industri chat bot,” jelas Irzan.

Selain Kata.ai, telah ada beberapa startup lain di tanah air yang juga telah menghadirkan layanan chat bot, seperti Bang Joni. E-commerce fesyen Sale Stock pun telah mengembangkan chat bot khusus bernama Soraya yang bisa membantu para pelanggan yang ingin membeli produk di platform mereka.

Sumber: Tech in Asia